Histeria

Sejarah Pura Siwa Dampati: Saksi Perjalanan Ida Pedanda Made Alangkajeng di Denpasar Bali

 Kamis, 23 Oktober 2025

Sejarah Pura Siwa Dampati: Saksi Perjalanan Ida Pedanda Made Alangkajeng di Denpasar Bali

IKUTI SEJARAHBALI.COM LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Sejarahbali.com, Denpasar - 

Berbicara tentang pura umat Hindu di Bali memang dikenal tiada habisnya.

Hal inilah yang menjadi dasar penyebutan Pulau Bali sebagai Pulau Seribu Pura.

Salah satunya adalah Pura Siwa Dampati. Bagaimanakah sejatinya sejarah pura ini?

Pura Siwa Dampati adalah sebuah pura yang berlokasi di kawasan Banjar Taman Sari, Desa Pakraman Intaran, Sanur.

Tepatnya di sebelah barat Balai Banjar Taman Sari. Sekitar tiga kilometer dari pusat Kota Denpasar Bali.

Klian Gede Banjar Taman Sari, Ida Bagus Kompiyang Sulendra ketika diwawancarai Bali Express (Jawa Pos Group) Minggu (30/7) lalu menjelaskan, bahwa pura ini diperkirakan telah ada sekitar abad ke 18.

Hal ini dibuktikan dengan adanya penanggalan tahun di salah satu pelinggih yang ada di pura tersebut. Yakni tertulis tahun 1724 Saka.

“Jadi jika dikaitkan dengan tahun masehi harus ditambah 78 tahun, dari sanalah disimpulkan bahwa pura ini telah ada sekitar abad ke-18,” jelasnya.

Menurut cerita yang berkembang dari para tetua di Banjar Taman Sari, Sulendra menceritakan bahwa keberadaan pura ini sangat erat kaitannya dengan perjalanan Ida Pedanda Alangkajeng yeng merupakan Brahmana asli Griya Delod Pasar.

Dimana tidak diketahui apa tujuannya, namun sang Brahmana melakukan perjalanan menuju Taman, dan membuat sebuah parahyangan yang dikenal dengan sebutan Pura Siwa Dampati.

Dan seluruh wilayah yang berada disekitar pura ini disebut dengan tetamanan.

Hal inilah yang menjadi alasan mengapa banjar yang menaungi wilayah tersebut disebut dengan Banjar Taman Sari.

Secara topografi, pura ini terletak linier atau tegak lurus dengan Pura Dalem Penataran yang berlokasi 500 meter di sebelah barat Pura Siwa Dampati ini.

Bahkan menurut Sulendra, Gedong utama bangunan pura ini lokasinya lurus dengan Gedong utama yang berada di Pura Dalem Penataran.

Konsep bangunanya sama seperti sebagian besar pura yang ada di Bali. Yakni menekankan konsep Nista Mandala yang merupakan jabe sisi, Madya Mandala yang terdapat satu buah bangunan Parerepan.

Parerepan berasal dari kata rerep yang artinya tertidur.

Jadi bangunan ini merupakan sarana penyimpanan sesuhunan Barong dan Rangda yang ada di Pura Siwa Dampati. Hanya saja, lokasinya berada di Madya Mandala.

Sedangkan untuk Utama Mandala, terdapat satu palinggih Gedong, dua palinggih Pengapit, satu palinggih Tajuk, dan bale Pawedan.

Pura ini sejatinya diempon keluarga Griya Gede Taman.

Namun hingga kini masyarakat Banjar Taman Sari yang berjumlah sekitar 300 KK turut menjadi penyungsung pura.

Nama Siwa Dampati menurut Sulendra berasal dari dua kata.

Yakni Siwa yang bermakna Dewa Siwa dan Dampati yang berarti pertemuan, yang dalam hal ini adalah penyatuan antara Dewa Siwa dan Dewi Parwati.

Sedangkan untuk Dewi Dhurga memiliki stana di Pura Dalem Penataran.

Piodalan di pura ini menggunakan siklus tahunan, tepatnya pada Purnamaning Sasih Kapat.

Sedangkan untuk piodalan di Parerepan dilaksanakan setiap Tumpek Wayang.

Konon katanya, keberadaan Barong dan Rangda di Pererepan Pura Siwa Dampati memiliki usia pelawatan sekitar 240 tahun.

Keberadaan sesuhunan tersebut sangat erat kaitannya dengan gambelan palegongan klasik yang dimiliki Banjar Taman Sari saat ini.

“Dimana dikatakan dahulu bahwa gambelan tersebut merupakan pengiring dari sesolahan Barong dan Rangda tersebut,” kata Sulendra.

Khusus untuk sesuhunan Barong dan Rangda, identik dilaksanakan ngereh setiap memasuki sasih gerubug. Atau lebih dikenal dengan Sasih Keenem.

Hal ini guna menetralisir kekuatan dan aura negatif yang ada di wilayah Banjar Taman Sari, agar terhindar dari wabah penyakit.

Uniknya lagi, sebagai sara pemujaan Dewa Siwa dan Dewi Parwati, pura ini senantiasa menjadi saksi dalam setiap pegukuhan panglingsir griya.

Hal ini dikatkan dengan manifestasi Siwa Sekala yang berada di setiap Brahmana atau Sulinggih.

“Untuk itu, menjadi penting memohon upesaksi kehadapan Dewa Siwa,” jelasnya.

“Jadi intinya pura Siwa Dampati ini dipercaya masyarakat sebagai pemberi anugerah kemakmuran,” tutupnya. 

Sumber: https://baliexpress.jawapos.com/balinese/671129710/sejarah-pura-siwa-dampati-saksi-perjalanan-ida-pedanda-made-alangkajeng-di-denpasar-bali?page=3#google_vignette

Penulis : TImLiputan

Editor : SejarahBali



Sejarah Bali Bali Sejarah Sejarah Bali Bali Sejarah Pura Siwa Dampati Denpasar Pura Bersejarah Bali Sejarah Pura Di Bali Kisah Pura Siwa Dampati Ida Pedanda Made Alangkajeng Perjalanan Spiritual Bali Budaya Bali Kearifan Lokal Bali Sejarah


Tonton Juga :











Sejarah Terpopuler





TRENDING TERHANGAT