SEJARAH ASAL USUL TRADISI PERANG KETUPAT BANTAL

  • 24 Oktober 2020

Tradisi perang tipat diadakan bertujuan untuk memohon kemakmuran masyarakat khususnya lahan pertanian. Pada perang tipat ini, warga dibagi menjadi dua kelompok, Kemudian mereka masing-masing membawa ketupat.

Ketika sudah mendapat aba-aba, mereka saling lempar ketupat. Tradisi ini dilaksanakan pertama kali tahun 1339 masehi. Tradisi ini dilaksanakan setahun sekali bertepatan dengan purnama kapat.

Pada waktu itu jagat Bali dipimpin oleh raja Ida Sri Astasura Ratna Bumi Banten. Sang raja lalu mengutus patihnya bernama Ki Kebo Taruna atau Kebo Iwa datang memperbaiki Pura Purusada di Kapal.

Saat kedatangannya tersebut, Kebo Iwa melihat sebagian besar rakyat Kapal bertani. Namun, saat datang warga Desa Kapal terserang musibah dan musim yang paceklik.

Saat itulah, Kebo Iwa memohon kepada Ida Bhatara yang berstana di Pura Purusada. Kemuduan ia mendapat petunjuk agar dilaksanakan upacara sebagai persembahan kepada Sang Hyang Siwa.

Persembahan tersebut diwujudkan dengan mempertemukan purusa dan predana disimbolkan tipat dan bantal. sehingga lahirlah tradisi aci tabuh rah pengangon atau yang dikenal perang tipat bantal.

Jadi pertemuan antara purusa dan predana akan melahirkan kehidupan baru. Sebelum upacara perang tipat dimulai, warga Desa akan melakukan persembahyangan bersama terlebih dulu di pura setempat.

Selanjutnya warga yang telah siap dengan ketupatnya masing-masing dikumpulkan untuk bersiap melawan musuh. Walaupun terlihat seperti sebuah pertempuran, dalam perang ketupat ini tidak ada kata dendam.

Semua aksi lempar-lemparan ketupat ini berjalan sorak sorai dan seru. Mereka bergembira bersama, bahkan kepada orang yang baru saja dikenal sekalipun.

Setelah saling lempar ketupat, para warga pun mengakhirinya dengan tawa dan saling berjabat tangan.

Komentar