Media Berita Online Bali Terkini, Kabar Terbaru Bali - Beritabali.com

Sejarah Keberadaan Arca Megalitik di Pura Ulun Suwi, Bangli

http://dramajiwa.blogspot.com/2015/12/sejarah-keberadaan-arca-megalitik-di.html?m=1

Arca megalitik merupakan sebuah peninggalan pada zaman megalitik (batu besar) yang berbentuk sebuah patung difungsikan sebagai media pemujaan terhadap  roh leluhur  atau nenek moyang.
.
Arca megalitik juga merupakan sebuah karya seni yang bersifat sakral atau religius-magis yang sengaja dibuat dalam usaha menjaga hubungan baik dengan para roh leluhur. Sedangkan para ahli menjelaskan secara lebih sfesifik mengenai arca megalitik seperti yang diuraikan oleh Asmito, (1992: 17) yang mengartikan arca megalitik sebagai sebuah bangunan atau hasil karya megalitik yang melambangkan nenek moyang.
.
Pengertian lain juga diungkapkan oleh Kompiang (1983:18) yang mengartikan bahwa Arca adalah sebuah batu yang dipahatkan gambar manusia dengan sederhana dan berfungsi sebagai pemujaan terhadap roh leluhur dan sebagai penolak bala.
.

Wilayah Desa Pakraman Selulung merupakan Desa Bali Kuna yang telah ada sejak zaman pra sejarah sehingga tidak heran di Desa Pakraman Selulung ditemukan banyak peninggalanpeninggalan purbakala salah satunya Arca Megalitik yang terdapat di Pura Ulun Suwi yang berada di wilayah Banjar Tanjungan.
.
Arca Megalitik yang terdapat di Pura Ulun Suwi yang berada di wilayah Banjar Tanjungan merupakan arca megalitik yang dipakai sebagai media pemujaan terhadap dewa kesuburan atau penjaga hasil pertanian. Selain itu, arca ini juga menggambarkan tingkah laku manusia dalam memuja roh leluhurnya,  hal ini dapat dilihat dari sikap tangan dari kedelapan arca megalitik yang masingmasing arca mempunyai sikap tangan yang berbeda.
.
Bentuk pemujaan  di Pura Ulun Suwi bersifat dwifungsi yaitu tempat pemujaan roh suci leluhur atau disebut Bhatara merupakan unsur kepercayaan asli Indonesia dan pemujaan terhadap dewa-dewa sebagai pengaruh agama Hindu, kedua pemujaan ini pada akhirnya dapat menyatu dengan harmonis di Ulun Suwi.


TAGS :

Komentar