Kenapa Dan Dimana Mebanten Saiban

 Jumat, 16 September 2022, 00:00 WITA

IKUTI SEJARAHBALI.COM LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Sejarahbali.com, Denpasar - 

Mesesaiban merupakan bagian atau bentuk sederhana dari upakara Yadnya. Mesesaiban merupakan bentuk upakara Yadnya paling sederhana.

Maka, kenapa setelah selesai memasak atau menghidangkan makanan terlebih dahulu mempersembahkan dan membuat sesaiban dengan beralaskan daun pisang berisi, Nasi, Garam, dan lauk-pauk yang dimasak saat itu.

Seperti Yadnya umumnya, Banten Saiban merupakan bentuk pelatihan belajar berbagi melepaskan sesuatu sebagai hak milik dirisendiri kepada yang lain, hal tersebut disampaikan, salah satu Dosen Prodi Teologi Hindu Fakultas Brahma Widya, Universitas Hindu Negeri  I Gusti Bagus Sugriwa, Denpasar, Acyutananda Wayan Gaduh, S.Pd.H., M.Ag di Denpasar.

"Jadi belajar berbagi antar sesama dan kepada alam, " jelasnya.

Banten saiban dapat dihaturkan di beberapa titik atau tempat di lingkungan rumah misal, di Kompor, Ulekan, Tempat air, Lesung, Sapu dan Talenan. Kemudian ditambah dengan rasa terimakasih terhadap Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang dipersembahkan di Sanggah.Pada dasarnya Sanggah sebagai Akasa tempat berstananya Ida Sang Hyang Widhi Wasa.Selanjutnya mempersembahkan juga ke lebuh itu persembahan sebagai Pertiwi.

"Banten saiban juga sebagai persembahan bagi para Butha jadi, ketika proses masak pada lima tempat tersebut yakni Talenan, Kompor, Ulekan, Tempat air, Sapu,dan Lesung itu adalah tempat yang rawan kita membunuh mahluk-mahluk lain.Tempat-tempat tersebut merupakan tempat penyembelihan hendaknya kita menghormati kekuatan Bhuta, kekuatan alam yang ada di sana kita persembahkan apa yang kita masak sebagai bentuk dasar kita berbagi dan melepaskannya, " paparnya.

Kemudian kapan waktu mebanten Saiban dilakukan menurut, tradisi orang Bali adalah, memasak di pagi hari makanya, mebanten saiban identik dilakukan pada pagi hari.Meskipun demikian tidak menutup kemungkinan  jika memasak sempat dilakukan pada siang hari tetap dapat mebanten saiban pada waktu tersebut.

"Waktunya mebanten saiban biasanya dilakukan pada pagi hari akan tetapi, jika saat siang hari baru selesai memasak di Dapur tentu tetap dapat melakukanya juga pada siang hari.Menurut pemahaman saya banten saiban tidak selalu dibuat dengan bentuk kecil-kecil akan tetapi, ketika kita makan misalnya wajib mempersembahkan terlebih dahulu walaupun dengan media doa saja, " bebernya.

Kitab Bhagawad Gita mengatakan, barang siapa memakan hasil atau sisa dari Yadnya maka, dia akan terlepas dari segala dosanya.Namun barang siapa yang memakan yang tidak melalui Yadnya terlebih dulu maka, Dia disebut sebagai pencuri. 

"Karena semua yang ada di dunia ini adalah milik tuhan. Jadi, sudah seharusnya kita menikmati terlebih dulu kemudian baru kita menikmati sisa dari persembahan tersebut, " katanya.

Selanjutnya, alas untuk menghaturkan Banten saiban lebih baik beralaskan daun atau plawa karena daun merupakan stana dari Dewa Siwa. Jadi, Dewa Siwa berstana daun atau plawa.

"Memang lebih baik kita menggunakan Plawa.Meskipun demikian, jika tidak memiliki daun pisang atau Plawa dapat juga menggunakan kertas minyak yang penting adalah isi persembahannya, " katanya.

Sembari Dirinya menambahkan, adapun isi banten saiban tidaklah harus baku.Akan tetapi, isinya disesuaikan dengan apa yang  dimasak dan dinikmati itulah yang dipersembahkan.

Penulis : A.A Gede Agung