Mitos Tidak Boleh Makan Di Depan Pintu, Tesemat Cerita Narasimha Dengan HIranyakasipu

 Rabu, 14 September 2022, 00:00 WITA

IKUTI SEJARAHBALI.COM LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Sejarahbali.com, Denpasar - 

Dibeberapa daerah di Bali memiliki berbagai mitos yang dipercaya secara turun-temurun oleh masyarakat setempat. Mitos biasanya dikaitkan dengan hal-hal mistis Serta, sebagian masyarakat masih mempercayainya hingga saat ini.

Salah satunya mitos, tidak boleh duduk di depan pintu (di Abegan pintu) ketika makan. Larangan makan sambil duduk di depan pintu mungkin logikanya, dapat menghalangi seseorang keluar masuk pintu. 

Akan tetapi dibalik mitos tersebut, tersemat cerita serta telah tertulis juga dalam Purana Bali. Hal tersebut disampaikan, salah satu Dosen Prodi Teologi Hindu Fakultas Brahma Widya, Universitas Hindu Negeri  I Gusti Bagus Sugriwa, Denpasar, Acyutananda Wayan Gaduh, S.Pd.H., M.Ag, mitos tersebut berkaitan dengan cerita Narasimha (Avatara Wisnu) dengan musuhnya Hiranyakasipu (Raja Jahat).

Dirinya menceritakan, Hiranyakasipu adalah, tokoh antagonis yakni, raksasa yang sangat jahat tetapi sangat tekun berdoa.

Karena, ketekunannya tersebut membuat Hiranyakasipu mendapat anugrah tidak bisa dibunuh di dalam maupun di luar ruangan, Tidak dapat dibunuh oleh senjata apapun, Tidak dapat dibunuh baik siang maupun pada malam hari serta Tidak dapat dibunuh oleh Dewa, manusia maupun binatang. 

"Karena dia (Hiranyakasipu) jahat membuat onar dimana- mana.Maka, para Dewa kebingungan selanjutnya turunlah Dewa Wisnu ke bumi menjadi, Narasimha, " katanya.

Adapun perujudan Narasimha, berkepala Singa dan bertubuh manusia yang akhirnya dapat membunuh Hiranyakasipu mengunakan kuku bukan dengan senjata, Dibunuh pada cacapan pembatas rumah antara luar dan di dalam rumah, serta pada sandikala yakni, tidak pada siang atau malam hari.

"Dari cerita tersebut mengapa batas menjadi sangat krusial, " cetusnya.

Dirinya menambahkan, miitos tidak boleh makan di abegan pintu.Selain secara logika dapat menghalangi orang keluar masuk.Namun secara spritual dapat dimaknai bahwa, tempat tersebut adalah batas antara luar dan dalam.

"Tempat tersebut sangat tidak stabil jika kita menikmati kudapan dan berdiam terlalu lama di abegan pintu.Sehinga energinya akan berpengaruh bagi kita.Jadi, hal ini memang sangat dihindari.Kita perlu bijak apakah mau di luar atau di dalam, " pungkasnya.
 

Penulis : A.A Gede Agung