Biografi

I Gde Darna

 Sabtu, 27 September 2014

Sejarahbali.com

IKUTI SEJARAHBALI.COM LAINNYA DI GOOGLE NEWS

 
Lalu setelah zaman partai pada Orde Lama berakhir?
Saya tetap mencipta lagu. Terutama ketika Pesta Kesenian Bali (PKB) mulai digelar di Denpasar. Dalam PKB itu ada sayembara penulisan lagu Bali. Saya dapat juara nomor satu sekaligus juga nomor dua. Setelah terima penghargaan, ternyata lagu-lagu saya itulah yang kemudian disebut sebagai lagu pop daerah Bali.
 
 
Apalagi saat itu, sahabat sekaligus saingan saya sejak zaman Jepang, yakni Anak Agung Made Cakra, juga terus mencipta lagu. Saya kagum pada beliau. Beliau seorang seniman musik yang serba bisa. Akibat jasa-jasa Anak Agung Cakra, lagu pop daerah makin populer. Beliaulah yang mengawali memperkenalkan lagu pop Bali dengan mengkasetkannya.
 
Bagaimana proses Anda menciptakan lagu?
Dulu saya pegang biola. Dengan biola saya ciptakan notasinya. Tapi kini saya punya alat musik tradisional dari bambu dan perunggu. Saya selalu membuat lagu dengan alat itu. Dengan alat musik tradisional, lagu-lagu saya jadi lebih kental nada kebaliannya. Lagu-lagu populer sekarang ini, saya tak tahu apa diciptakan dengan alat seperti itu atau alat lainnya. Tapi mungkin lebih banyak dengan alat elektronik.
 
Anda sendiri saat itu tak ikut mengkasetkan lagu-lagu ciptaan sendiri?
Lagu-lagu saya juga ada yang direkam dalam kaset. Tapi tak banyak. Itu pun bukan dalam bentuk album sendirian, tapi campuran dengan pencipta lagu lainnya. Terutama dalam kaset lagu-lagu PKB, biasanya saya dan Anak Agung Cakra mendominasi.
 
Lirik lagu-lagu Anda dikenal dekat dengan semangat perjuangan dan semangat kecintaan pada tanah Dewata. Bagaimana ceritanya?
Saya ini seorang veteran. Sebagai veteran, saya merasa lebih semangat menulis lagu tentang perjuangan, seperti lagu "Pewaris Kemerdekaan", "Dirgahayu Indonesia", maupun lagu lain dalam bahasa Bali. Semangat heroik ini juga tercermin dalam kecintaan saya pada Bali. Maka lahirlah lagu "Bali Lestari", "Bali Dwipa", "Bali Sutrepti" dan lainnya. Harapan saya, anak muda Bali sekarang ini jangan mengecilkan tanah kelahirannya. Seperti dalam lagu "Bali Kembang Melati", saya sampaikan sebuah falsafah bagaimana menegakkan dan me-murti-kan taksu Bali. Janganlah Bali dijual terlalu murah. Dan saya percaya, lewat seni suara kita bisa mempengaruhi pola pikir generasi muda Bali agar tak lalai terhadap tanah kelahirannya.
 

Halaman :


Sejarah Bali Sejarah Bali Wisata


Tonton Juga :



Biografi Lainnya :










Sejarah Terpopuler





TRENDING TERHANGAT