Biografi

I Gde Darna

 Sabtu, 27 September 2014

Sejarahbali.com

IKUTI SEJARAHBALI.COM LAINNYA DI GOOGLE NEWS

 
* * *
 
SELAIN menekuni musik pop Bali, Anda juga dikenal sebagai sastrawan. Mana yang lebih memuaskan?
Dua-duanya disenangi, dua-duanya memuaskan. Saya sebenarnya lebih dulu menulis puisi. Pada tahun 1954 pernah jadi juara puisi bertemakan Ibu Kartini. Juara pertama se-Nusa Tenggara. Mungkin karena peserta sedikit, maka saya juara. Yang berkesan saat itu, ketika hendak menerima hadiah dari Gubernur saya kebingungan mencari celana panjang.
 
Kini tampaknya Anda lebih suka menulis puisi Bali modern?
Iya, memang. Tapi sebenarnya saya lebih dulu menulis puisi berbahasa Indonesia. Saya menulis puisi Bali modern sekitar tahun 1960-an. Pertama kali dimuat di Suluh Marhaen bersama-sama penyair lain di Denpasar seperti Yudha Panik, Made Sanggra dan lain-lainnya. Dulu saya juga menulis naskah drama berbahasa Bali. Latihannya di Lingkungan Bale Agung.
 
 
Komentar Anda soal sastra Bali modern saat ini?
Sangat menggembirakan, banyak penulis muda yang bagus, punya bakat luar biasa. Saya lihat sastra Bali modern mulai maju dan perkembangannya seimbang dengan sastra daerah lain, seperti Jawa dan Sunda. Sekarang juga banyak majalah yang menampung naskah-naskah sastra Bali modern, seperti Buratwangi di Karangasem, Canang Sari di Gianyar. Namun saya pikir tak perlu bikin majalah banyak-banyak, cukup dua atau tiga tapi kita bina bersama. Agar kualitasnya makin baik. Selain majalah, perlu juga sastra Bali modern ini dikembangkan lewat radio. Melalui media radio kegairahan berbahasa Bali juga makin meningkat.
 
Mengapa sastra Bali modern harus digiatkan, apa manfaatnya?
Sastra itu punya nilai tersendiri, berbeda dengan bahasa yang kita pergunakan sehari-hari. Selain itu, sastra, seperti juga lagu pop Bali, bisa mewarnai perkembangan bahasa daerah. Meski sastra sudah ada dalam tembang-tembang, geguritan dan sastra-sastra lama, tapi kini kehidupan masyarakat makin praktis dan modern. Maka sastra pun perlu dikembangkan dalam nuansa yang lebih modern.
 
Pengembangan sastra Bali modern lewat pendidikan bagaimana?
Iya, itulah. Dalam pendidikan bahasa Bali kita di sekolah, siswa hanya belajar membaca dan menulis. Bukan belajar sastra Bali secara khusus. Makanya kita harapkan instansi yang menangani masalah pendidikan peka dan ikut berjuang bersama seniman, bagaimana agar sastra Bali modern ini bisa masuk sekolah-sekolah. Misalnya dengan mengundang seniman untuk memberi apresiasi dan membaca karya-karyanya. Apalagi dalam zaman otonomi ini, pelajaran sastra Bali Modern juga perlu dimasukkan dalam kurikulum muatan lokal. Dalam kurikulum itu, siswa tak hanya diajar membaca dan menulis Bali, tapi juga sastranya. Misalnya mengenal nama pengarang dan judul karangannya serta sekaligus mengapresiasinya. Dulu, pada zaman Nyoman Tusti Eddy (penyair dari Karangasem, red) masih kuliah di Singaraja, Ketut Suwija (penyair Buleleng, red) dan saya terus berdiskusi, bagaimana membuka peluang dan mengangkat puisi Bali modern.
 
Apa diperlukan penghargaan khusus untuk sastrawan Bali modern seperti yang dilakukan Ayip Rosidi dengan "Rancage"-nya?
Memang lahirnya sastra Bali modern masih baru, tapi perlu juga dipikirkan untuk memberi penghargaan khusus. Justru penghargaan selama ini datang dari Sunda dengan hadiah "Rancage". Kenapa Bali tak bisa? Kami para seniman tua ini sering mengatakan hal itu dalam seminar-seminar. Rencananya saya dan seniman lain akan menghadap Gubernur untuk membicarakan hal ini.
 

Halaman :


Sejarah Bali Sejarah Bali Wisata


Tonton Juga :



Biografi Lainnya :










Sejarah Terpopuler





TRENDING TERHANGAT